Posts Tagged ‘BTS’
NSN Siapkan BTS Frekuensi 800 MHz
Tempo - Rabu, 28 April
TEMPO Interaktif, Jakarta – Menjelang pelelangan spektrum dividen digital yang saat ini berlangsung di Jerman, Nokia Siemens Networks (NSN) mulai memproduksi modul frekuensi radio Flexi Multiradio Base Station untuk 800 MHz. Perangkat ini juga disiapkan untuk menggelar layanan LTE.
Multiradio Flexi Base Station adalah BTS LTE paling ringkas dan paling hemat energi yang ada di pasaran. Pita frekuensi 800 MHz sangat dibutuhkan untuk menggelar layanan LTE di daerah pedesaan. Pasalnya, frekuensi ini jangkauannya lebih luas, sehingga para operator dapat memenuhi target akses broadband bergerak mereka dengan biaya yang efisien.
Para operator juga dapat memperluas jangkauan layanan broadband bergerak mereka dengan memanfaatkan spektrum radio “Dividen Digital” yang tersedia, seiring peralihan dari TV analog ke TV terestrial digital yang tengah dilakukan di berbagai negara.
“Ketika berbagai negara beralih dari TV analog ke digital, mereka membebaskan spektrum yang dapat digunakan untuk jaringan bergerak,” ujar Thorsten Robrecht, head of LTE product management, Nokia Siemens Networks.
Menurutnya, sebagian negara besar di Eropa dan beberapa negara di Timur Tengah, Afrika dan Asia, tengah mengevaluasi pita frekuensi ini untuk penggelaran LTE. Menyadari peluang yang ditawarkan dividen digital ini bagi para operator, pihaknya senantiasa mengikuti perkembangan.
“Dan kini mulai memproduksi BTS yang beroperasi di pita frekuensi 800 MHz, dengan penggelaran komersial ditargetkan mulai pada semester kedua 2010,” ujar Robrecht melalui siaran pers perusahaan perangkat jaringan tersebut.
Jangkauan pita 800 MHz yang lebih jauh memungkinkan para operator untuk mencakup satu daerah tertentu dengan situs menara yang lebih sedikit jika dibanding frekuensi-frekuensi yang lebih tinggi. Para operator yang menggelar LTE pada frekuensi 800 MHz dapat dengan mudah mencapai cakupan yang sama dengan jaringan GSM (900 MHz) dengan menggunakan BTS yang sudah ada.
Melihat potensinya untuk mencakup kawasan pedesaan dengan biaya yang efisien, serta penetrasi dalam ruangan yang lebih baik di kawasan perkotaan, para pemangku kepentingan industri dan regulator pada ajang World Radio Conference 2007 lalu setuju untuk menetapkan pita frekuensi 800 MHz untuk komunikasi broadband bergerak.
Dan, Jerman saat ini tengah melelang spektrum yang tersedia untuk operator. Langkah yang dilakukan Jerman tersebut diperkirakan akan segera diikuti negara-negara lain.
Nokia Siemens Networks berhasil menguji teknologi LTE untuk 800 MHz tahun lalu di pusat pengembangannya di kota Ulm, Jerman, dan Oulu, Finlandia, dengan menggunakan Multiradio Flexi Base Station.
Multiradio Flexi Base Station adalah BTS LTE paling ringkas dan paling hemat energi yang ada di pasaran. Pengiriman dimulai pada bulan September 2008 dan saat ini digunakan oleh mayoritas pelanggan WCDMA Nokia Siemens Networks.
Desainnya yang unik terdiri dari sebuah modul sistem umum (yang bekerja di semua gelombang frekuensi) dan sebuah modul frekuensi radio (RF) untuk frekuensi tertentu yang digunakan dalam jaringan. Modul RF untuk versi 800 MHz kini sedang dalam tahap produksi. Flexi Multiradio Base Station mendukung GSM/EDGE, WCDMA/HSPA dan LTE.
Menkominfo Surati Mendagri Terkait Perobohan Menara Telkom
Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika akan segera melayangkan surat ke Kementerian Dalam Negeri terkait perobohan 31 menara telekomunikasi yang di dalamnya terdapat 84 BTS di Kabupaten Badung, Bali, pada awal Februari 2010.
“Setelah selesai dibahas dan diformulasikan internal di minggu pertama Pebruari 2010, Kementerian Kominfo hanya dalam beberapa hari ke depan akan melayangkan surat resmi ke Kementerian Dalam Negeri,” kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo, Gatot S. Dewa Broto, dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu.
Gatot Dewa mengatakan, perobohan menara yang dilakukan atas dasar alasan tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) berdasarkan Perda Provinsi Nomor 4/PD/DPRD/1974 tentang Bangun-Bangunan, justru dikhawatirkan mendatangkan dampak negatif bagi Bali termasuk dalam hal kelangsungan layanan publik, perkembangan pariwisata, dan stabilitas keamanan setempat. Baca lebih lanjut »
